
The Perfect Date berkisah tentang seorang pemuda (super tampan) yang sangat berambisi untuk masuk ke universitas bergengsi, Yale. Namun, ketika dia semakin dekat dengan impiannya tersebut, malah kehampaan yang dia dapatkan. Ternyata bukan itu yang sebenarnya dia inginkan. Ya kira-kira seperti itulah garis besar kisah film ini. Lantas, mengapa aku bilang klise? Seperti kebanyakan film yang sudah aku tonton, film ini menceritakan tentang proses pencarian jati diri di mana pemeran utama tidak mensyukuri apa yang ada dalam dirinya dan sekitarnya. Lalu dia berambisi kuat untuk mendapatkan sesuatu yang diimpi-impikan oleh kebanyakan orang hingga kehilangan semua hal yang dia miliki selama ini. Apa itu? ya seperti biasa, keluarga dan teman baik. Setelah itu, dia sadar bahwa apa yang dia miliki selama ini adalah sebuah anugerah terbesar. Lalu dia mencoba untuk memperbaiki keadaan dengan kembali kepada keluarga dan teman dekatnya, dan Woala! Problem solved! Kamu hanya cukup menjadi dirimu sendiri dan lakukan yang terbaik. Have you ever watched this kind of theme, guys?
Tenang-tenang, aku punya impresi yang bagus kok dengan film ini. Seperti di judulnya, film ini mengeksekusi tema klise dengan baik terutama dari segi penceritaan dan kekuatan dialognya. Karakterisasi tokohnya juga ding. hehe
Okay mulai dari penceritaan, yang aku suka adalah semua elemen memiliki keterkaitan. Adegan Brooks dan Celia mengomentari lukisan-lukisan di jalan ternyata berkaitan dengan Celia yang tidak cocok berkencan dengan Franklin. adegan ketika Murph menciptakan aplikasi Stand-In lengkap dengan fitur Trackz yang membuatnya ditrima di universitas yang sama dengan Brooks. Brooks menemani nenek tua yang memberinya nasehat sehingga membuatnya menghubungi Celia kembali, dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan satu sama lain. Salut juga untuk kekuatan dialognya. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dialog yang menyentuh sisi personalku sebagai penonton.
Brooks: “Kau bisa bayangkan jika aku berhasil mendapatkan Shelby dan berhasil masuk Yale, itu seperti semua mimpiku menjadi kenyataan”
Celia: “Astaga, aku merasa kasian padamu. Kau hanya mengandalkan faktor luar untuk membahagiakanmu. Menunggu orang lain menerimamu daripada kamu menerima dirimu sendiri.
Boom! It hit me so hard. hahaha.. You know, it’s kinda hard to be honest to ourself right? And this dialog help me to define what i have felt. Kok jadi curhat ya? Ada satu dialog bagus lagi yang akan ku kutip di bawah ini.
Nenek tua: “Apa kau ingin tahu bagaimana seseorang itu cocok denganmu atau tidak?”
Brooks: “Ya..”
Nenek tua: ” Sederhana, duduk saja dan ngobrol. Saat berbicara dengan orang tertentu, rasanya seperti mendengar musik klasik di radio tanpa antena. Kau mencoba mencari sinyalnya, tapi tidak ketemu. Tapi, saat kau ditakdirkan dengan seseorang, dan mereka benar untukmu, kau duduk saja, dan mulai bicara, dan Sonatha Beethoven akan mulai terdengar.”
So sweet kan guys? hayoo, kalian pasti lagi memikirkan doi, sambil menerka-nerka yang muncul beethoven apa radio yang kresek-kresek? hahaha.
Overall, if you need a movie for entertaining purpose, you might like it. Apalagi Noah Centino gantengnya kebablasan gitu. Hahaha..
That’s all guys, see you on my next movie talk!